PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DITINJAU DARI ASPEK PSIKOLOGI
PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DITINJAU DARI ASPEK PSIKOLOGI
Makalah Ini dibuat untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Psikologi Pendidikan
Dosen Pembimbing : Nurul Hidayah, S.Psi.,M. Si. Psi.
Disusun oleh :
Shovia Syah Putri 1700013080
Kelas: B
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
Kata Pengantar
Makalah ini saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi pendidikan yang di ampu oleh ibu Nurul Hidayah, S.Psi.,M. Si. Psi. Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah ini agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, saya mohon maaf yang sebesar besarnya apabila ada kekeliruan kata atau kalimat dalam penulisan makalah ini.
Yogyakarta, 23 Maret 2019
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang mempunyai sumber daya alam melimpah, suku yang beragam dan kebudayaan yang tidak ada habisnya, serta angka harapan hidup Indonesia terus meningkatkan setiap tahunnya, meskipun masih belum mencapai batas minimum. Namun, kekayaan yang dimiliki Indonesia ternyata belum menjadikan Indonesia menjadi negara maju, terutama belum maju dalam sektor kualitas pendidikannya, ini berdasakan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (UU Nomor 20 Tahun 2003). Pendidikan juga bisa diartikan sebagai usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup atau untuk kemajuan yang lebih baik. Pendidikan dapat mengembangkan karakter melalui berbagai macam kegiatan, seperti penanaman nilai, pengembangan budi pekerti, nilai agama, pembelajaran dan pelatihan nilai-nilal moral, dan lain sebagainya. Tujuan pendidikan sendiri sangat banyak, salah satunya seperti yang tercantum di dalam undang undang yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis juga bertanggung jawab.
Banyak permasalahan Pendidikan yang terjadi di Indonesia yakni rendahnya kualitas para pengajar, dan lemahnya para guru dalam menggali potensi anak, rendahnya kesadaran moral anak Indonesia, dan permasalahan fasilitas yang tersedia bagi peserta didik di Indonesia. Maka dapat dikatakan kualitas Pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan.
B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan pendidikan dan dasar pendidikan di Indonesia ?
b. Apa saja permasalahan Pendidikan yang terjadi di Indonesia ?
c. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasinya?
C. Tujuan
a. Untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Psikologi Pendidikan.
b. Untuk mengetahui apa saja permasalahan yang terjadi di Indonesia dan cara mengaasinya.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Dasar Permasalahan Pendidikan Indonesia
Begitu kompleksnya permasalahan yang ada di Indonesia didalam dunia pendidikan, seharusnya segera diatasi dan ditindak lanjuti, mengingat bahwa pendidikan merupakan suatu hal penting dalam membangun kualitas dan karakter bangsa.
Permasalahan pertama yang ada di dalam pendidikan Indonesia adalah kualitas para pengajar. Kualitas guru di Indonesia sangat kurang memadai. Kelemahan para pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan potensi para siswa. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan. Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. (Mulyasa, 2005)
Kualitas guru meruapakan tolak ukur bagaimana masa depan Indonesia terprediksi, apabila kualitas guru sangat baik dalam pola mengajar anak, dan dapat menggali potensi peserta didiknya serta dapat menuntut kreatifitas anak, maka akan tercipta anak-anak bangsa yang unggul dan dapat membangun negeri dengan bijak.
Keberadaan guru di Indonesia sangatlah memadai jumlahnya, namun demikian terdapat kelemahan yang terjadi di lapangan, yakni dalam hal distribusi guru, banyak daerah yang tidak merata dalam jumlah guru yang mengajar disekolah. terkadang terdapat SD, maupun SMP yang kelebihan jumlah guru yang mengajar dalam sekolahnya, tetapi diwilayah lain bahkan guru yang harusnya menjadi standar minimum pengajar disekolah bahkan tidak mencapai target. Dari beberapa kasus ada yang hanya memiliki 4 bahkan 5 guru didalam sekolah tersebut. Tak jarang mereka mengajar secara pararek dan simultan. Selain itu guru yang mengajar pun terkadang tidak memenuhi kualitas mengajar. Hal itu dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Rekrutmen guru yang tidak efektif. Masih dapat ditemukan sistem perekrutan guru yang tidak dilakukan secara profesional, sehingga menjadi celah yang menjadikan kompetensi guru menjadi rendah. Keadaan seperti ini menimpa lebih dari setengah guru di Indonesia. (oemar, 2005)
Selain dilihat dari sistem pembelajaran di Indonesia, dan juga kualitas guru terdapat satu permasalahan lagi yang perlu diberi perhatian khusus yakni masalah fasilitas. Tak jarang beberapa sekolah negeri di Indonesia yang berada di wilayah-wilayah pedesaan yang sulit di akses maupun tidak mengalami kerusakan infrastruktur. Gedung- Gedung sekolah runtuh, atap jebol sehingga mengalami kebocoran saat hujan, kursi dan meja yang patah, papan tulis yang masih menggunakan kapur, fasilitas kamar kecil yang begitu memprihatinkan, air bersih, dll.
Fasilitas harusnya menjadi sarana utama dalam menunjang pendidikan. Memfasilitasi peserta didik dengan fasilitas yang layak akan membuat peserta didik nyaman berada di lingkungan belajar, serta membuat psikis peserta didik jauh lebih baik. Konsentrasi akan tercipta apabila memiliki ruang kelas yang bersih, terkontrol, dan anak akan jauh lebih mudah meyerap pembelajaran disekolah. Permasalahan dasar yang ada pada dunia Pendidikan Indonesia saat ini benar-benar memasuki status “gawat” dan perlu perhatian khusus dari pemerintah dan juga ahli khusus serta orang-orang yang berkompeten membenahinya permasalahan ini. Sudah selayaknya kita ikut andil untuk gotong royong membangun Pendidikan Indonesia agar memasuki dunia pendidikan yang berkualitas.
B. Peran Psikologi Didalam Bidang Pendidikan
Psikologi merupakan cabang dari ilmu pengetahuan yang diterima dengan waktu yang agak terlambat. Bukan tanpa sebab, pengkajian akan manusia jika secara fisik dan biologis sudah berjalan lama. Psikologi diartikan sebagai studi ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan dan tingkah laku manusia (Slater, 2005). Psikologi pendidikan dimaksudkan untuk memberikan pengaruh dalam kegiatan pendidikan pembelajaran dan proses belajar mengajar yang lebih efektif dengan memperhatikan respon kejiwaan dan tingkah laku anak didik. Keadaan sistem pembelajaran, cara mengajar, dan anak didik di setiap daerah tidaklah sama. Kebiasaan anak didik ketika berada di lingkungan keluarga dan lingkungan pendidikan terkadang juga berbeda. Psikologi pendidikan muncul untuk memberikan perbaikan pada dunia pendidikan dalam menerapkan kurikulum, proses belajar mengajar, layanan konseling dan evaluasi untuk mendapatkan kualitas anak didik yang lebih baik. Menurut Muhibin Syah (2005), psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang membahas masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor – faktor yang berhubungan dengan dunia pendidikan (Whiterington, 1982).
Menurut Abimanyu (1996) mengemukakan bahwa peranan psikologi dalam pendidikan dan pengajaran ialah bertujuan untuk memberikan orientasi mengenai laporan studi, menelusuri masalah-masalah di lapangan dengan pendekatan psikologi serta meneliti faktor-faktor manusia dalam proses pendidikan dan di dalam situasi proses belajar mengajar. Psikologi dalam pendidikan dan pengajaran banyak mempengaruhi perumusan tujuan pendidikan, perumusan kurikulum maupun prosedur dan metode-metode belajar mengajar. Psikologi ini memberikan jalan untuk mendapatkan pemecahan atas masalah-masalah sebagai berikut: Perubahan yang terjadi pada anak didik selama dalam proses pendidikan, pengaruh pembawaan dan lingkungan atas hasil belajar. teori dan proses belajar, hubungan antara teknik mengajar dan hasil belajar, perbandingan hasil pendidikan formal dengan pendidikan informal atas diri individu, pengaruh kondisi sosial anak didik atas pendidikan yang diterimanya, nilai sikap ilmiah atas pendidikan yang dimiliki oleh para petugas pendidikan, pengaruh interaksi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid, hambatan, kesulitan, ketegangan, dan sebagainya yang dialami oleh anak didik selama proses pendidikan, dan pengaruh perbedaan individu yang satu dengan individu yang lain dalam batas kemampuan belajar.
Pendidik atau guru perlu memilik pengetahuan yang lebih untuk memberikan pengajaran pada anak didiknya. Proses belajar mengajar memberikan dampak secara pengetahuan (kognitif) pada peserta didik yang awalnya tidak tahu tentang materi yang diberikan menjadi tahu. Guru atau pengajar perlu memiliki pengetahuan tentang metode pembelajaran dan pengetahuan lainnya tentang masalah yang mungkin ada pada peserta didik. Pengetahuan tentang aktivitas jiwa peserta didik, intelegensi, kepribadian, karakter individu, bakat peserta didik, tumbuh kembangnya, pembinaan disiplin di dalam kelas, motivasi belajar, perilaku guru, strategi belajar mengajar, dan masalah masalah khusus dalam pengajaran dan pendidikan. Proses pembelajaran yang interaktif dari guru akan memberikan motivasi dan respon positif dari anak didik saat proses belajar mengajar. Pembawaan dimiliki seorang pengajar sebagai gaya penyampaian materi, konsep pengajaran selama berada di kelas. Dan juga diperlukan untuk mengubah suasana yang menstimulus siswa selalu aktif akan meningkatkan kualitas hasil pembelajaran.
Bila ditinjau dari proses – proses tingkah laku menurut Soerjabrata, psikologi pendidikan ditinjau secara dinamis yakni mencakup perubahan perilaku seperti : Perubahan perilaku karena pertumbuhan dan perkembangan dan perubahan perilaku karena belajar merupakan faktor yang penting dalam pembelajaran. Proses pembelajaran interaktif yang diberikan oleh guru kepada peserta didik akan memunculkan perubahan perilaku seperti ketrampilan selama proses pembelajaran seperti berbicara di depan kelas, berdiskusi, ataupun kegiatan yang melibatkan respon sensorik dan motorik. Kegiatan tersebut memberikan perubahan pada peserta didik menjadi lebih aktif dan perubahan sikap (afektif) dari sikap yang kurang baik menjadi sikap yang positif. Sikap positif yang dibawa saat kembali ke dalam keluarga, ke masyarakat merupakan hasil proses pendidikan yang berkualitas. Adapun faktor lain yang mempengaruhi Situasi belajar sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Situasi seperti tempat dan suasana sangat mempengaruhi keberhasilan mengajar seorang guru. Kondisi ruang kelas, ruang laboratorium, ruang perpustakaan merupakan fasilitas yang membantu mempengaruhi kualitas belajar mengajar. Kondisi ruangan dari kebersihan, sirkulasi udara, kapasitas ruangan yang memadai, kondisi bangku dan tempat duduk, penerangan, dan kondisi tenang dibutuhkan akan membangkitkan minta belajar peserta didik dan juga semangat mengajar guru. Sikap guru, semangat kelas, sikap keluarga dan masyarakat juga merupakan faktor yang mempengaruhi situasi belajar dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas proses dan hasil pembelajaran. Faktor lain yang mempengaruhi belajar berasal dari dalam atau diri siswa yaitu motivasi, bakat, intelegensi, kemampuan diri menyesuaikan dengan lingkungan belajar. (Supriyono, 1999)
C. Solusi Permasalahan
Untuk mengatasi masalah-masalah, seperti rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, dan lain-lain seperti yang telah dijelaskan diatas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:
Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Solusi lainnya adalah meningkatkan prestasi siswa dengan cara mengarahkan siswa pada minat dan bakat yang terlihat pada siswa. Kemudian diberi fasilitas untuk menunjang keberhasilan dalam mewujudkan kreatifas siswa diberi dana dalam bentuk beasiswa atau lainnya. Untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Permasalahan dasar pendidikan di Indonesia sangatlah kompleks begitu banyak permasalahan yang terjadi karena berawal dari penerapan sistem yang membuat siswa di Indonesia tidak kreatif, mesti mengikuti pola sistem kurikulum yang di canangkan pemerintah tanpa mengetahui hal apa yang di butuhkan di dalam masyarakat. Sistem yang ada menjadikan peserta didik seperti robot terbentuk bukan karena kreatifitas melainkan paksaan.
Kualitas tenaga pengajar yang belum professional masih banyak tidak dipungkiri hampir dibanyak kasus, guru tidak berkompeten dalam mengajar suatu materi dan tidak dapat mengenali dan menggali potensi peserta didik, dan selain itu perlu adanya perubahan pola dan perubahan system agar bentuk proses belajar yang ada di Indonesia dapat menunjang kualitas Pendidikan peserta didik maupun tenaga professional pengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Supriyono. 1999. Psikoogi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamanik, Oemar. 2005. Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. Edisi 2. Bandung: Tarsito
Muhibbin, Syah. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta: Raya Grafindo Perkasa.
Mulyasa, E. 2005. Standar Kompetensi Dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Narver, J. C, & Slater, S. F. 2005. The Effect of marketing orientation performance. Jurnal of marketing 54, 20-33.

Mantap nih.. makasih infonya. 👍
BalasHapussangat membantoe
BalasHapus